Friday, November 4, 2011

Release Tukik Penyu di Tanjung Keluang Pangkalan Bun




Pada hari Kamis tanggal 3 Oktober 2011 telah dilakukan pelepasliaran terhadap Tukik (anak) Pada hari Kamis tanggal 3 Oktober 2011 telah dilakukan pelepasliaran terhadap Tukik (anak) Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) di Taman Wisata Alam Tanjung Keluang Pangkalan Bun. Taman Wisata Alam Tanjung Keluang berada di Desa Kubu, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Propinsi Kalimantan Tengah. 
Pelepasliaran ini dilakukan segenap instansi pemerintah daerah dan pusat serta LSM yang peduli akan kelestarian alam. 



Taman Wisata Alam Tanjung Keluang 
Pantai wisata ini termasuk tipe ekosistem pantai dengan hamparan pasir putih dan laut yang tenang, adanya tumbuhan cemara khas pantai dan mangrove merupakan panorama yang indah. Tumbuhan yang membentuk sabuk hijau bervariasi dari golongan mangrove sejati (bakau, pidada, api-api, nipah, nirih) dan non sejati (seperti pandan laut, bogem, cemara laut, kelapa) serta tumbuhan formasi pescarpae, seperti katang-katang, kacang laut, rumput teki, rumput gulung yang diselingi tanaman pionir dan tumbuhan dari ciri ekosistem lain. 
Untuk menuju ke tempat wisata ini dapat ditempuh dengan kendaraan darat selama ± 30 menit perjalanan dengan menggunakan mobil, jarak dari kota Pangkalan Bun ke lokasi (Desa Kubu) ± 30 km. Dari Pantai Kubu dilanjutkan dengan kendaraan air (klotok) ± 15 menit. 
Penyu adalah kura-kura laut. Penyu ditemukan di semua samudra di dunia. Menurut data para ilmuwan, penyu sudah ada sejak akhir zaman Jura (145 - 208 juta tahun yang lalu) atau seusia dengan dinosaurus. Pada masa itu Archelon, yang berukuran panjang badan enam meter, dan Cimochelys telah berenang di laut purba seperti penyu masa kini. 
Penyu mengalami siklus bertelur yang beragam, dari 2 - 8 tahun sekali. Sementara penyu jantan menghabiskan seluruh hidupnya di laut, betina sesekali mampir ke daratan untuk bertelur. Penyu betina menyukai pantai berpasir yang sepi dari manusia dan sumber bising dan cahaya sebagai tempat bertelur yang berjumlah ratusan itu, dalam lubang yang digali dengan sepasang tungkai belakangnya. Pada saat mendarat untuk bertelur, gangguan berupa cahaya ataupun suara dapat membuat penyu mengurungkan niatnya dan kembali ke laut. 

Penyu yang menetas di perairan pantai Indonesia ada yang ditemukan di sekitar kepulauan Hawaii. Penyu diketahui tidak setia pada tempat kelahirannya. Tidak banyak regenerasi yang dihasilkan seekor penyu. Dari ratusan butir telur yang dikeluarkan oleh seekor penyu betina, paling banyak hanya belasan tukik (bayi penyu) yang berhasil sampai ke laut kembali dan tumbuh dewasa. Itu pun tidak memperhitungkan faktor perburuan oleh manusia dan pemangsa alaminya seperti kepiting, burung dan tikus di pantai, serta ikan-ikan besar begitu tukik tersebut menyentuh perairan dalam.  Di tempat-tempat yang populer sebagai tempat bertelur penyu biasanya sekarang dibangun konseravasi untuk membantu meningkatkan tingkat kelulushidupan (survival). Di Indonesia terdapat di berbagai pesisir pantai dan salah satunya di TWA Tanjung Keluang. (DBY)

1 comment:

  1. Mas numpang saran, gaya menulisnya masih kaku!!wkwkwk Coba kalo gaya menulisnya dibuat bercerita termaasuk keunikan tempat wisata itu dari warga sekitar. Jd lebih enak dibaca n pembaca jd ikut terbawa suasana ceritanya

    ReplyDelete